Menu

Pesantren Online

  1. Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    Fungsi niat dalam ibadah sangatlah penting. Karena itu setiap muslim harus senantiasa memperbaiki niat dalam ibadahnya, yaitu ikhlas untuk Allah semata.

    ‘Umar ibnul Khaththab ra. berkata: Aku mendengar Nabi saw. bersabda:

    Amalan-amalan itu hanyalah tergantung dengan niatnya. Dan setiap orang hanyalah mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Maka siapa yang amalan hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya itu kepada apa yang dia tujukan/niatkan.”

    Hadits yang agung di atas diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam beberapa tempat di kitab Shahih-nya (hadits no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953) dan Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 190emofugue/nerd.png.

    Al-Imam Al-Bukhari membuka kitab Shahih-nya dengan hadits ini dan menempatkannya seperti khutbah/mukaddimah bagi kitab beliau, sebagai isyarat bahwasanya setiap amalan yang tidak ditujukan untuk mendapatkan wajah Allah Subhanahu Wata’ala maka amalan itu batil, tidak akan diperoleh buah/hasilnya di dunia, terlebih lagi di akhirat. Karena itulah berkata Abdurrahman bin Mahdi: “Seandainya aku membuat bab-bab dalam sebuah kitab niscaya aku tempatkan pada setiap bab hadits Umar tentang amalan itu dengan niatnya.” Beliau juga mengatakan: “Siapa yang ingin menulis sebuah kitab maka hendaknya ia memulai dengan hadits .” (Jam’iul ‘Ulum wal Hikam, karya Ibnu Rajab Al-Hambali, hal. 59-60. Muassasah Ar-Risalah, cet. ke-4, th. 1413 H/1993 M)

    Hadits ini selain diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim, juga diriwayatkan para imam yang lain. Dan komentar tentang hadits ini kami cukupkan dengan menukil ucapan Ibnu Rajab Al-Hambali di atas karena terdapatnya kifayah (kecukupan/memadai).

    Penjelasan Hadits

    Dari hadits di atas kita pahami bahwasanya setiap orang akan memperoleh balasan dari amalan yang dilakukan sesuai dengan niatnya. Dalam hal ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah telah berkata: “Setiap amalan yang dilakukan seseorang baik berupa kebaikan ataupun kejelekan tergantung dengan niatnya. Apabila ia tujukan dengan perbuatan tersebut niatan/maksud yang baik maka ia mendapatkan kebaikan, sebaliknya bila maksudnya jelek maka ia mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” Beliau juga mengatakan: “Hadits ini mencakup di dalamnya seluruh amalan, yakni setiap amalan harus disertai niat. Dan niat ini yang membedakan antara orang yang beramal karena ingin mendapatkan ridha Allah I dan pahala di negeri akhirat, dengan orang yang beramal karena ingin dunia, baik berupa harta, kemuliaan, pujian, sanjungan, pengagungan dan selainnya.” (Makarimul Akhlaq, hal. 26 dan 27)

    Di sini kita bisa melihat arti pentingnya niat sebagai ruh amal, inti dan sendinya. Amal menjadi benar karena niat yang benar dan sebaliknya amal menjadi rusak karena niat yang rusak.

    Dinukilkan dari sebagian salaf ucapan mereka yang bermakna: “Siapa yang senang untuk disempurnakan amalan yang dilakukannya maka hendaklah ia membaikkan niatnya. Karena Allah Subahanu Wata’ala memberi pahala bagi seorang hamba apabila baik niatnya, sampaipun satu suapan yang dia berikan (akan diberi pahala).”

    Ibnul Mubarak berkata: “Berapa banyak amalan yang sedikit bisa menjadi besar karena niat dan berapa banyak amalan yang besar bisa bernilai kecil karena niatnya.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, hal. 71)

    Perlu diketahui, suatu perkara yang sifatnya mubah, pelakunya bisa diberi pahala karena niat yang baik. Seperti orang yang makan dan minum. Jika ia niatkan perbuatan tersebut dalam rangka membantunya untuk taat kepada Allah Subahanu Wata’ala dan bisa menegakkan ibadah kepada-Nya, maka orang tersebut akan diberi pahala. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan: “Perkara mubah pada diri orang-orang yang khusus dari kalangan muqarrabin (mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Allah Subahanu Wata’ala) bisa berubah menjadi ketaatan dan qurubat (perbuatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Subahanu Wata’ala) karena niat.” (Madarijus Salikin 1/107)

    Al-Imam An-Nawawi t dalam Syarah Shahih Muslim (7/92) ketika menjelaskan hadits:

    “Dan pada kemaluan salah seorang dari kalian (menggauli istri) ada sedekah.”
    beliau menyatakan: “Dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan bahwasanya perkara-perkara mubah bisa menjadi amalan ketaatan dengan niat yang baik. Jima’ (bersetubuh) dengan istri bisa bernilai ibadah apabila seseorang meniatkan untuk menunaikan hak istri dan bergaul dengan cara yang baik terhadapnya sesuai dengan apa yang Allah Subahanu Wata’ala perintahkan. Atau ia bertujuan untuk mendapatkan anak yang shalih, menjaga kehormatan diri atau istrinya, mencegah keduanya dari melihat perkara yang haram, berfikir kepada perkara haram atau berkeinginan melakukan perkara haram serta tujuan-tujuan tidak baik lainnya.”(Syarh Shahih Muslim, 3/44)

    Meluruskan Niat

    Seorang hamba harus terus berupaya memperbaiki niat dan meluruskannya agar apa yang dia lakukan berbuah kebaikan. Dan memperbaiki niat ini perlu mujahadah (kesungguh-sungguhan dengan mencurahkan segala daya upaya). Karena sulitnya meluruskan niat ini sampai-sampai Sufyan Ats-Tsauri t berkata: “Bagiku, tidak ada suatu perkara yang paling berat untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat pada diriku itu bisa berubah-ubah.” (Hilyatul Auliya, 7/5 dan 62)

    Dan niat itu harus ditujukan semata untuk Allah Subahanu Wata’ala, ikhlas karena mengharapkan wajah-Nya yang Mulia. Ibadah tanpa keikhlasan niat maka tertolak sebagaimana bila ibadah itu tidak mencocoki tuntunan Rasulullah saw. Allah Subahanu Wata’ala berfirman tentang ikhlas dalam ibadah ini, yang artinya: “Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dalam keadaan mengikhlaskan agama bagi-Nya.” (Al-Bayyinah: 5)

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata dalam Majmu‘ Fatawa (10/49): “Mengikhlaskan agama untuk Allah Subahanu Wata’ala adalah pokok ajaran agama ini yang Allah Subahanu Wata’ala tidak menerima selainnya. Dengan ajaran agama inilah Allah Subahanu Wata’ala mengutus rasul yang pertama sampai rasul yang terakhir, yang karenanya Allah Subahanu Wata’ala menurunkan seluruh kitab. Ikhlas dalam agama merupakan perkara yang disepakati oleh para imam ahlul iman. Dan ia merupakan inti dakwah para nabi dan poros Al-Qur’an.”

    Yang perlu diingat bahwasanya niat itu tempatnya di hati sehingga tidak boleh dilafadzkan dengan lisan. Bahkan termasuk perbuatan bid’ah bila niat itu dilafadzkan.

    Pelajaran yang Dipetik dari Hadits Ini
    1. Niat itu termasuk bagian dari iman karena niat termasuk amalan hati.
    2. Wajib bagi seorang muslim mengetahui hukum suatu amalan sebelum ia melakukan amalan tersebut, apakah amalan itu disyariatkan atau tidak, apakah hukumnya wajib atau sunnah. Karena di dalam hadits ditunjukkan bahwasanya amalan itu bisa tertolak apabila luput darinya niatan yang disyariatkan.
    3. Disyaratkannya niat dalam amalan-amalan ketaatan dan harus dita‘yin (ditentukan) yakni bila seseorang ingin shalat maka ia harus menentukan dalam niatnya shalat yang akan ia kerjakan, apakah shalat sunnah atau shalat wajib, dhuhur, atau ashar, dst. Bila ingin puasa maka ia harus menentukan apakah puasanya itu puasa sunnah, puasa qadha atau yang lainnya.
    4. Amal tergantung dari niat, meliputi sah tidaknya, sempurna atau kurangnya, taat atau maksiat.
    5. Seseorang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang dia niatkan. Namun perlu diingat, niat yang baik tidaklah merubah perkara mungkar (kejelekan) itu menjadi ma’ruf (kebaikan), dan tidak menjadikan yang bid’ah menjadi sunnah.
    6. Wajibnya berhati-hati dari riya`, sum‘ah (beramal karena ingin didengar orang lain), dan tujuan dunia lainnya, karena perkara tersebut merusakkan ibadah kepada Allah Subahanu Wata’ala.
    7. Hijrah (berpindah) dari negeri kafir ke negeri Islam memiliki keutamaan yang besar dan merupakan ibadah bila diniatkan karena Allah Subahanu Wata’ala dan Rasul-Nya.

    Wallahu a‘lam bish-shawab.

    sumber

    Last Edited by Muhamad Ihsan Firdaus at
  2. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    Yang perlu diingat bahwasanya niat itu tempatnya di hati sehingga tidak boleh dilafadzkan dengan lisan. Bahkan termasuk perbuatan bid’ah bila niat itu dilafadzkan.

    Saya masih bingung dengan kalimat yang di bold ini. Mohon penjelasannya yang lebih mendalam, misalkan dengan contoh, niat seperti apa yang di-anggap bid'ah tersebut. Supaya jangan kita asal membid'ahkan sesuatu.

    Bagaimana dengan niat dalam shalat, bagaimana dengan lapadz niatnya.

    mohon pencerahan,
    Syukron atas jawabannya.
    Assalamu'alaikum.

    Last Edited by beni khaerul jalil at
  3. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    "Yang perlu diingat bahwasanya niat itu tempatnya di hati sehingga tidak boleh dilafadzkan dengan lisan. Bahkan termasuk perbuatan bid’ah bila niat itu dilafadzkan."

    **JANGAN DIKIT-DIKIT BILANG BID'AH
    **
    Niat itu memang dalam hati, untuk memantapkan niat maka diucapkan
    @Muhamad Ihsan Firdaus

    Last Edited by Muhammad Mardli Habibi at
  4. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    Insya Allah selama ada dalil atau contoh dari Rasulullah tentang niat ini baik yang tidak di lafazkan maupun yang di lafazkan maka itulah yang paling benar (wallahu'alam), misal nya pelafazan niat ihram umrah/haji : Labbaikallahumma umratan" --> lafaz tersebut memang di contohkan rasul, maka hendaknya niat nya dibarengi dengan pelafazan seperti yang dicontohkan tersebut. bahkan jika tidak di ucapkan khawatir terjatuh ke perbuatan yang meninggalkan sunnah.

    wallahu'alam bi shawab

  5. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    tapi yang saya aneh,,, jika kita merasa mantap dengan melafadzkan niat dan merasa baik bahkan berpahala,,,
    kenapa rasul dan para sahabatnya tidak melakukan nya????? apakah mereka itu tidak kepikiran untuk melapadzkan niat atau apakah mereka bodoh?????

    karena yang saya tahu dan yang saya tanyakan kepada ustadz-ustadz yang melafalkan niat, bahwa mereka sendiri mengaku tidak ada hadist yang menunjukkan rasul melafalkan niat,,, ada juga hadist yang menunjukkan kepada para imam-imam yang melakukan nya secara inisiatif.

    namun perlu diingat juga,, bahwa rasul yang dibimbing oleh wahyu dan Allah sekalipun tidak melafalkan niat,, itu artinya ada sesuatu yang menahan rasul bersama shahabatnya untuk melafalkan niat,,,, lalu apakah kita yang tidak dibimbing oleh wahyu (malah cenderung sering berbuat dosa) ingin melakukan inisiatif yang rasul sendiri menahan untuk melakukannya???

    apakah itu umat yang disebut dengan umat yang senantiasa mengikuti segala tingkah laku rasul???

    berbeda halnya dengan lafadz labbaik seperti yang diutartakan oleh Muhamad Ihsan Firdaus (ihsanfirdaus),,, itu saya sendiri pun pernah membacanya dan ketika ditanyakan pun hadits tersebut berasal dari sumber yang bisa dilacak dan jelas asal usulnya

  6. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    khusus untuk lafaz niat umrah dan haji tadi ada di hadits :
    Anas RA berkata:"Aku pernah mendengar rasulullah Saw. Melakukan talbiyah haji dan umrah bersama-sama sambil mengucapkan : Labbaikallahumma Hajjan wa umrotan ("Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk melaksanakan haji dan umrah"). (HR. Bukhari Muslim)

    Tapi kembali lafaz itu pun tidak harus dikeraskan cukup di baca dalam hati, seperti yang di jawab oleh Syaikh Abdullah Bin Baz, berikut ini :

    Pertanyaan
    Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apakah sah ihram haji atau ihram umrah dengan tanpa melaksanakan shalat dua rakaat ihram ? Dan apakah mengucapkan niat ihram juga sebagai syarat sahnya ihram ?

    Jawaban
    Shalat sebelum ihram bukan sebagai syarat sahnya ihram, tapi hukumnya sunnah menurut mayoritas ulama. Adapun caranya adalah dengan wudhu dan shalat dua rakaat kemudian niat dalam hati apa yang ingin dilakukan dari haji atau umrah dan melafazkan hal tersebut dengan mengucapkan, "Labbaik Allahuma umratan " jika untuk umrah saja, atau "Labbaik Allahumma hajjatan " jika ingin haji saja, atau "Labbaykallumma hajjan wa 'umratan " jika ingin melaksanakan haji dan umrah sekaligus (haji qiran) seperti dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dana para sahabatnya, semoga Allah meridhai mereka. Namun niat seperti tersebut tidak harus dilafazkan dalam bentuk ucapan, bahkan cukup dalam hati, kemudian membaca talbiyah.

    "Artinya : Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah. Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, dengan tanpa menyekutukan apa pun kepada-Mu. Sungguh puji, nikmat, dan kekuasaan hanya bagi-Mu tanpa sekutu apapun bagi-Mu".

    Talbiyah ini adalah talbiyah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam seperti disebutkan dalam shahih Bukhari dan shahih Muslim serta kitab-kitab hadits lain.
    dan di keterangan lain

  7. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    menanggapi tentang pertanyaan
    **karena yang saya tahu dan yang saya tanyakan kepada ustadz-ustadz yang melafalkan niat, bahwa mereka sendiri mengaku tidak ada hadist yang menunjukkan rasul melafalkan niat,,, ada juga hadist yang menunjukkan kepada para imam-imam yang melakukan nya secara inisiatif.

    namun perlu diingat juga,, bahwa rasul yang dibimbing oleh wahyu dan Allah sekalipun tidak melafalkan niat,, itu artinya ada sesuatu yang menahan rasul bersama shahabatnya untuk melafalkan niat,,,, lalu apakah kita yang tidak dibimbing oleh wahyu (malah cenderung sering berbuat dosa) ingin melakukan inisiatif yang rasul sendiri menahan untuk melakukannya???

    apakah itu umat yang disebut dengan umat yang senantiasa mengikuti segala tingkah laku rasul???**

    tertawa dulu,,,
    sumber hukum itu islam itu tidak cuma Al-Qur'an Hadits looo kang,,,,
    Ijma' dan Qiyas juga looo, jangan dilupain

    pernah dengar hadits ini
    الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
    “Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR At-Tirmidzi dari Abu Ad-Darda radhiallahu ‘anhu)

    jika kita ambil dalil yang berdasarkan Al-Qur'an dan Hadits, ilmu kita mah belum cukup untuk mengetahui rahasia2 dalam Al-qur'an dan hadits

    maka dari itu kita pada zaman ini diwajibkan untuk mengikuti mazhab 4.
    imam hanafi, imam syafi'i, imam maliki, imam hambali

    soal melafadz kan niat
    pernah belajar ilmu Ushul fiqih apa belum??
    di dalam ilmu ushul fiqih di kitab ghoyatul ushul karangan syekh abi yahya zakaria al anshori assyafi'i
    ada pernyataan begini
    "sesuatu yang membuat perkara wajib itu sempurna maka perkara itu wajib"
    dan ada lagi
    "jika sesuatu itu tidak dilarang atau di wajibkan maka perkara itu termasuk boleh"

    jadi melafazkan niat hukum asalnya adalah boleh
    karena seperti yang mas Ilal Ahad (ilal_ahad) kata enggak ada Al qur'an dan Hadits yang menerangka ( saya belum mengeceknya hadits begitu banyak)

    jika orang tersebut bisanya mantap hatinya dengan niat yang dibarengi dengan mengucapkan niat maka hukumnya bisa wajib mengucapkan niat tersebut.

    sama halnya juga saat membasuh tangan saat wudlu, membasuh tangan yang wajib itu mulai dari ujung jari samapi sikut. apakah mas bisa tepat dan pas saat membasuh sampai sikut dengan tanpa melebihkan keatas sikut??

    hukum melihat situasi dan kondisi
    hukum tidak kaku tapi hukum itu tegas

    jika pernyataan mas begitu
    mas jangan baca Al-Qur'an yang sekarang. kenapa??
    karena dulu waktu zaman Rasulullah belum ada harakatnya, tulisannya masih arab gundul dan balok, dan nabi tidak pernah menyuruh mengharokati.
    (pengharokatan Al-qur'an di mulai saat zaman bani abbasiyyah)

    mas kalau mau haji enggak usah pake pesawat
    karena dulu di zaman Nabi nabi belum pernah naik haji dengan pesawat
    dan di Al-qur'an dan Hadits enggak ada yang menerangkan hal tersebut

    Last Edited by Muhammad Mardli Habibi at
  8. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    ijma sama qiyasnya sapa, babing?
    imam syafi'i aja gak sepakat koq

  9. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    menanggapi

    tertawa dulu,,,

    sumber hukum itu islam itu tidak cuma Al-Qur'an Hadits looo kang,,,,
    Ijma' dan Qiyas juga looo, jangan dilupain,,,

    kalo didalam Al-qur'an dasarnya sudah tidak ada,,, maka kenapa harus capai-capai bikin sesuatu yang baru,,,,

    dan menanggapi

    soal melafadz kan niat

    pernah belajar ilmu Ushul fiqih apa belum??
    di dalam ilmu ushul fiqih di kitab ghoyatul ushul karangan syekh abi yahya zakaria al anshori assyafi'i
    ada pernyataan begini
    "sesuatu yang membuat perkara wajib itu sempurna maka perkara itu wajib"
    dan ada lagi
    "jika sesuatu itu tidak dilarang atau di wajibkan maka perkara itu termasuk boleh"....

    lalu bagai mana dengan kaidah ushul yang menjelaskan

    al-ashlu fil ibadati mamnuun, illa dalla dalilu ala khilafihi,,

    kayanya antum salah baca deh

    nah jika sesuatu yang asalnya tidak dilarang menjadi boleh itu adalah dallil kebolehan diluar ibadah mahdoh,, seperti dalil makan pizza,, bala-bala,, dalil memakai motor dan lainnya yang menyangkut urusan dunia kita

    rasul pernah bersabda,,, kalian semua lebih mengetahui urusan dunia daripada aku,,, maka dem=ngan demikian muncl-lah kaidah diatas ,, yaitu yang asalnya tidak ada larangan maka menjadi boleh itu HANYA dalam urusan DUNIA, BUkAN IBADAH MAHDOH

    kalo memang bisa dipakai dalam ibadah mahdoh,, maka sholat subuh 4 rakaat pun bisa menjadi boleh karena tidak ada hadits yang melarangnya,,,

    kalo soal wudhu ,, itu saya pernah baca bahwa rasul malah menganjurkan untuk memperbagus wudhu kita,, karena rasul berdo'a kepada Allah atas kelakuan kaum anshor yang sangat berseka baik itu ketika wudhu atau mandi junub,, dan rasul tidak melarang perbuatan tersebut malah rasul menganjurkan,, itu sudah menjadi Takrir shahabat yang sudah disetujui oleh rasul,,,

    sedangkan membaca niat sudah di setujui oleh rasul ??????

  10. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    Risdy (rizts)
    para ulama'

    Ilal Ahad (ilal_ahad)
    kalo didalam Al-qur'an dasarnya sudah tidak ada,,, maka kenapa harus capai-capai bikin sesuatu yang baru,,,,

    dan menanggapi
    ++++++++++++++++++++++++++++

    karena semakin berkembangnya zaman maka bekerja di depan komputer juga gak ada dasarnya di Al-Qur'an
    0000000000000000000000000000000000

    lalu bagai mana dengan kaidah ushul yang menjelaskan

    al-ashlu fil ibadati mamnuun, illa dalla dalilu ala khilafihi,,

    kayanya antum salah baca deh

    nah jika sesuatu yang asalnya tidak dilarang menjadi boleh itu adalah dallil kebolehan diluar ibadah mahdoh,, seperti dalil makan pizza,, bala-bala,, dalil memakai motor dan lainnya yang menyangkut urusan dunia kita

    rasul pernah bersabda,,, kalian semua lebih mengetahui urusan dunia daripada aku,,, maka dem=ngan demikian muncl-lah kaidah diatas ,, yaitu yang asalnya tidak ada larangan maka menjadi boleh itu HANYA dalam urusan DUNIA, BUkAN IBADAH MAHDOH

    kalo memang bisa dipakai dalam ibadah mahdoh,, maka sholat subuh 4 rakaat pun bisa menjadi boleh karena tidak ada hadits yang melarangnya,,,

    kalo soal wudhu ,, itu saya pernah baca bahwa rasul malah menganjurkan untuk memperbagus wudhu kita,, karena rasul berdo'a kepada Allah atas kelakuan kaum anshor yang sangat berseka baik itu ketika wudhu atau mandi junub,, dan rasul tidak melarang perbuatan tersebut malah rasul menganjurkan,, itu sudah menjadi Takrir shahabat yang sudah disetujui oleh rasul,,,

    sedangkan membaca niat sudah di setujui oleh rasul ??????
    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    toh urusan dunia akan bersangkut paut pada akhirat

    sholat subuh kan sudah diajarkan oleh Nabi 2 rakaat dan enggak ada pertentangan oleh para ulama', itu sudah wajib 2 rakaat tidak bisa di ganggu gugat.

    niatkan sudah saya jelaskan diatas,,

    sekarang pergi haji dengan menggunkan pesawat apakah di setujui oleh rasul? atau pengharokatan Al-qur'an???

  11. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    hehe, gak tau lagi mana urusan dunia, mana urusan ibadah
    malah pake kaidah naik haji naek pesawat bid'ah .. hehe

    nih, biar gampang cerna tentang bid'ah

    Last Edited by Risdy at
  12. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    anda setuju ini kan,,,
    Bahwa segala ucapan dab perbuatan yang timbul dari manusia, baik berupa ibadah, muamalah, pidana,perdata atau berbagai macam perjanjian atau pembelanjaan dan lain2 maka semua itu mempunyai hukum di dalam syariat.

    kenapa membaca niat untuk memantapkan hati belum disetujui rasulullah ya, sedangkan naik haji pake pesawat sudah disetujui ya??? pada semuanya juga urusan ibadah bahkan naik pesawat buat haji baru2 saja

  13. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    udah ah, artikelnya blm dibaca
    sangat2 tidak ilmiah gak pake dalil al-quran/hadits
    dan sangat menggampangkan ijtihad, padahal para shahabat tidak

  14. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    Risdy (rizts)
    kalau dalam Al-qur'an dan sunnah enggak ada, bukannya ijtihad harus dilakukan?? kalau enggak bisa ijtihad bukannya bertaqlid pada ulama' yang mumpuni??

  15. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    "... Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucukupkan nikmatKu kepadamu, dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu ...." (Al Maidah:3).

  16. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    aku lama2 bingung dengan anda
    di lain sisi anda bilang jangan taqlid (muqolid)??
    di sisi lain anda bilang jangan mudah ijtihad ???

    mana nie yang bener??

  17. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    subhanallah.sahabat q semua. saya berkomentarsedikit mengenai niat. menurut saya mana yang lebih mantap itulah yang kita lakukan. para ulama banyak yang berbeda pendapat,tapi mereka tidak pernah mempermasalahkan terlalu serius. jadikanlah perbedaan itu menjadi keindahan.

  18. Re: Memahami Pengertian Niat

    2827 0 0

    stuju sama orang kudus(Muhammad Mardli Habibi)...
    Tidak semua yang nabi tidak lakukan ataupun yng tdak tertulis dalam alqur'an/hadis adalah salah,semua itu adalah sebuah sumber yang bisa diolah menjadi bermacam" bentuk diantaranya qiyas dan ijma',dan yang bisa mengolah itu dinamakan mujtahid(min.bisa hafal 400 rb hadis) bila kita tak bisa mengolah tinggal ikut saja apa yang telah mereka wariskan hingga kini...
    Itulah pedoman orang ahlussunnah waljama'ah,anda termasuk atau tidak???